Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh….

Bismillahirrahmaanirrahiim….

Hari Raya Idul Fitri dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Kebahagiaan, dimana semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh dan kemenangan bermakna bahwa manusia telah menang melawan musuh besarnya yatu nafsu. Idul Fitri, adalah hari raya yang dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah

Idul Fitri : Kata ‘Id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yaitu kembali ke tempat atau ke keadaan semula, apakah yang dimaksud keadaan atau tempat semula itu? Hal ini dijelaskan oleh kata Fithr, yang antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian. Berarti Idul Fitri dapat diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. (Lihat QS al-A’raf  7 :172)

Dalam pandangan Islam, asal kejadian manusia adalah suci dan bebas dari dosa, namun dalam perjalanan hidupnya banyak yang melupakan Allah serta telah melakukan dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Idul fitri mengarahkan kita untuk kembali lagi pada pengabdian terhadap Allah dan menyadari kesalahan yang telah diperbuat kemudian bertobat. Idul Fitri dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya, dapat dijelaskan dari makna al-insan yang sebagian ulama menyatakan kata tersebut diambil dari kata uns yang berarti senang atau harmonis, sehingga pada dasarnya manusia adalah memiliki fitrah untuk senang dan hidup harmonis, dengan melakukan dosa terhadap sesama manusia menyebabkan hubungan terganggu dan tidak harmonis lagi. Namun manusia akan kembali pada posisi semula (harmonis) pada saat ia menyadari kesalahannya, dan berusaha mendekat kepada siapa yang pernah ia lukai hatinya.

Salah besar apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘ atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan, akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan nilai ketaqwaan.

Dari uraian di atas dapat di disimpulkan bahwa idul fitri mengandung pesan agar yang merayakanya untuk kembali pada pembawaan manusia berupa ajaran tauhid dan mewujudkan kedekatan kepada Allah dan sesama manusia, kedekatan tersebut diperoleh antara lain dengan kesadaran terhadap kesalahan yang telah diperbuat.

Sikap yang harus kita punyai Ketika merayakan Idul Fitri,  diantaranya yaitu:

  1. Rasa penuh harap kepada Allah SWT. Harapan disertai keyakinan akan diampuni dosa-dosa yang berlalu, sehingga puasa di bulan Ramadhan dan ibadah wajib dan sunnah yang dikerjakan benar-benar bermakna pensucian diri dari kesalahan dan dosa kemudian kembali pada keadaan fitrah manusia.
  2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja
  3. Mempertahankan nilai kesucian / fitrah, pengabdian pada keesaan Allah yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa seharusnya berkelanjutan hingga akhir hayat.

Refrensi :

1. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran tafsir maudhu’I atas berbagai permasalahan umat.

2.Mimbarjumat.com