Berbicara tentang wanita memang sangat rumit dengan perspektif laki-laki pada umunya, karna sudah menjadi isu besar bahwa wanita adalah perhiasan dan hiburan yang diperuntukkan bagi laki-laki, setidaknya itulah yang tergambar dari sejarah peradaban masa lalu. Sejarah menunjukkan bayak peradaban besar seperti Yunani, Romawi, India, Cina dan Arab Jahiliyah menempatkan wanita dalam posisi yang sangat memprihatinkan, wanita diperlakukan sebagai budak yang dapat dierjualbelikan dan tidak memiliki hak untuk dirinya sendiri. Dalam ajaran yahudi, wanita sama dengan pembantu. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai sumber laknat. Pada abad ke 5 dan 6 masehi dalam pandangan sementara pemuka/pengamat Nasrani wanita adalah senjata iblis dan diadakan pertemuan yang membahas apakah wanita memiliki ruh atau tidak, wanita manusia atau tidak. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki. Lantas apa yang terjadi pada zaman sekarang dengan nasib wanita, saya pikir tidak jauh berbeda, hanya kemasannya saja yang berbeda.

Jika sejarah masa lalu menunjukkan bahwa wanita sama sekali tidak memiliki hak untuk dirinya sendiri maka zaman sekarang sudah cukup berbeda, wanita memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki bahkan memilki kekhususan sendiri dalam sauatu negara. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah wanita harus memiliki hak yang benar-benar sama dengan laki-laki atas nama kesetaraan Gender dan apakah wanita sudah menggunakan haknya dengan benar. Inilah yang menjadi masalah dan perdebatan zaman sekarang. Atas nama kesetaraan, tugas/kewajiban, norma-norma kemanusiaan dan Tuhan menjadi samar-samar bahkan terabaikan. Kemuliann dan kehormatan yang diberikan Tuhan untuk wanita sudah diputarbalikkan maknanya sesuai keinginan. Melihat realitas wanita zaman sekarang walaupun belum tentu mewakili seluruh wanita pada umunya sangat meprihatinkan. Mungkin saya salah satu dari sekian banyak laki-laki di dunia ini yang merasa bingung bagaimana caranya memperlakukan, memandang wanita dengan kemuliaan dan penuh penghormatan sementara wanita tidak memuliakan dan menghormati dirinya sendiri atau kemulian dan kehormatan memiliki makna yang berbeda menurut pandangannya.

Sebagai individu yang hidup dan dibesarkan di lingkungan yang hampir semuanya wanita, saya tentu memiliki pandangan sendiri terhadap wanita, wanita adalah sosok yang dimuliakan yang memiliki sifat lemah lembut, penyayang, dan pengasih yang tergambar dari Ibu ku Sendiri, wanita adalah sosok manusia yang terhormat (Kamus Linguistik, Kridalaksana, 1993 : 12 : Wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat. Mengalami proses ameliorasi, perubahan makna yang semakin positif.) dan pantas dihormati dan deperlakukan sesuai norma kebaikan. Wanita memilki dunianya sendiri yang memang harus dihargai dan juga memiliki hak yang yang sama dengan laki-laki/pria dan harus dihormati, tapi saya pikir hak-hak wanita haruslah sesuai dengan norma yang telah Tuhan berikan yang pastinya untuk kebaikan manusia secara keseluruhan dan untuk keseimbangan, keharmonisan dunia bersama. Jika ada sebagian diantara teman-teman pada tanggal 8 dan 9 Maret mengetahui dan merayakan Hari Wanita, mungkin inilah waktu untuk memaknai lagi bagaimana kita memberikan arti tentang kesetaraan Gender, wanita harus memandang kemuliaan dan kehormatan dirinya dan laki-laki/pria memperlakukan dan memandang wanita dengan cara yang baik.